Sabtu, 2 Desember.
Libur saatnya molor sampe siang, yaa hari ini libur karena para mahasiswa memasuki minggu tenang, minggu dimana aktivitas perkuliahan diliburkan buat kita-kita belajar menghadapi Final Test. Jam 9’an aku dan abin (sepupuku) bangun (tak lupa sholat subuh trus tidur lagi hihiihi ). Setelah itu akupun mandi, makan bersamanya lalu mengantarkannya pulang kekostnya. Sebelum berangkat, tari bicara mengajakku untuk melobby gedung, buat acara makrab nanti jam 5 sore katanya. Hmm okey kataku. akupun berangkat mengantar sepupuku tadi, tak lupa ke martapura sebentar buat shopping. Cukup menguras dompetku alhasil tersisa 2 ribu perak di dalam dompet. Itupun buat bayar parkir, capee deh. Aku tak enak bila dompet kosong, jadi sebelum pulang kuputuskan mampir ke ATM dulu.
Setelah sampai di rumah, aku masak, makan, kunci kamar, sholat belajar, tidur. Aku tak mengira sudah jam 5 lewat karena tadi hujan lebat sekali. Saat ku keluar kamar, ternyata tai sudah siap dan pergi begitu saja tanpa menghiraukanku. Aku bingung, bukankah dia yang mengajakku pergi bersama tapi kok malah kabur ninggalkan aku. Aneh bukan? Aku pun marah dan jadi ogah buat kesana,tapi klo aku ga kesana sama aja dengan aku kalah. Ya sudaaaaaaah ! aku putuskan buat kesana mencari teman-temanku setelah aku sholat.
Di jalan tiba-tiba saja ada mobil dihadapanku, aku pun mengere menghindari mobil,dan tak disangka ada lubang menanti di hadapanku. Ku mencoba rem semampuku,tetapi sayang jalan yang licin sehabis hujan, pasir di sekitar lubang membuatku tidak bisa berbuat apa-apa, membuat motorku berkelok-kelok kesana kemari kehilangan keseimbangan alhasil bruuuk aku jatuh. Tak ada siapa-siapa disana kecuali aku dan si mobil. Aku yang tak kuat dan tak berdaya Cuma bisa berharap si pengemudi itu turun agar menolongku. Tapi nyatanya apa? Dia kabur dan meninggalkanku sendirian dalam keadaan tertindih motor yang berat. Ku yang tak kuat berbaring saja dijalanan dengan motor menindihku, meringis menahan sakit dan mengira ku sudah mati. Beruntung saat itu ada orang yang lewat berbaik hati menghampiri dan mengangkatku.
“Astaga, kenapa de, ditabrak yah?” aku yang tak bisa ngomongpun cuma bisa mengangguk seadanya karena syok berat.
“Yang mobil itu tadi ya dek?
Oalah keren-keren make mobil nabrak orang tapi malah kabur, dasar orang gila.”
Yaa itu kata-kata si lelaki tua penolongku, kata-kata yang bisa ku tangkap dalam bahasa jawanya mungkin seperti itu artinya. Semua kaca spion, kaca depan pecah semua karena tadi jatuh kuat sekali. Tak penting berapa yang harus diperbaiki, yang penting saat ini seberapa sakit yang ku derita. Kaki kiriku bengkak besar,dan yang kanan lecet. Tak apalah kaki, yang ku tahan saat ini adalah luka memar yang ada di perutku, yaah perutku menghantam stang motor sehingga perutku seperti tersayat pisau dengan warna biru yang terasa teramat sangat sakit karena bengkak dan memar. Beruntung tadi aku memakai jaket dan jeans, sehingga aku tidak berlumuran darah secara langsung. Setelah itu aku mendatangi teman-temanku tadi, mencari mereka di lokasi lalu ketoko revarasi membeli kaca spion. Dan ketika ku sampai di rumah ku sms mama dan intan,Cuma intan yang membalas. “Bilang geh sama mama” jawab intan. Looh emang mama dimana, jawabku
Oooh mama lagi di hotel, ada acara disana sama kawan-kawan kantor..
Jam 8’an mama menelponku, dengan nada yang sanga mengkhawatirkan.
“Nak, kenapa biisa sampai kecelakaan, blalalalaa..
Ku ceritakan kejadiannya, tak lupa juga bilang kaca-kaca moor pecah.
“ahh jangan mikirkan itu, motor gpp, yang penting berurut aja sana!”
Iya mama. Percakapan trhenti, satu jam kemudian mama menelponku.
“udah diurut belum?”
Kataku, tadi orangnya ga ada (tetangga), jadi besok aja.
Mamapun mengajakku pulang ke Barabai esok, tapi ku tolak alasan belajar.
Setelah itu aku sms si abin, dan ku menanyakan dimana tempat urut, aku tadi kecelakaan!
2 jam kemudian dia datang menemuiku, dan menginap menemaniku. Temanku di rumah tidak peduli dengan keadaan ku.
Minggu, 25
Esok pagi, dia mengantarkanku ke tukang urut, tapi sebelumnya kami keliling Banjarbaru dulu. Di gang astoria itulah lokasi yang kami tuju, setelah bertanya-tanya dengan orang. Ketika disana cuma tangan dan kakiku yang diurut, huh gak puas, kamipun mencari tukang urut yang lain. Kami pun ke lokasi selajutnya dan menemui seorang nenek tua, terlihat di rungan yang ku tepati itu dipenuhi dengan botol minyak di setiap lemarinya dan dengan nuansa rumah tua yang nampak sepi. Aku pun membuka baju, sehingga Cuma tapih saja yang kukenakan. Walaupun tak senyaman urutan langgananku d’barabai tapi lumayan lah, aga mendingan daripada yang tadi. Aku berteriak histeris saat nenek tua itu memutar-mutar dan mempermainkan luka bengkakku. Ingin rasanya menangis dan berteriak sekua-kuatnya, jadi kutahan saja dengan cara konjang kanjing kesitu dan kemari seperti ular yang kepanasan. Itu bagian kaki, kini mulai ke bagian perut, sumpah aku benar-benar gak tahan dengan siapapun yang memegang perutku, geli dan sakit ketika nenek itu menekan perutku. Alhasil aku teler, rasanya tak kuat agi untuk berbuat apa-apa.
Hari ini terasa menyiksa dengan rasa yang teramat sangat sakiiit! CUKUP BUAT HARI INI..
2019
6 tahun yang lalu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar